DONATE

Perolehan NU Care-LAZISNU Naik Seribu Persen


Lembaga Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) menggelar Seminar Nasional bertema “Penguatan Filantropi Islam Nusantara untuk Kemandirian Ekonomi Umat”, Kamis (2/2), di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

Seminar tersebut menjadi rangkaian awal dari “Workshop Asistensi Manajemen ZIS” yang diselenggarakan pada Jumat-Ahad, 3–5 Februari 2017, di Pondok Pesantren Global Insani Mandiri (GIM), Sukabumi, Jawa Barat.

Ketua Panitia H Abdullah Mas'ud, mengungkapkan seminar dan lokakarya ini diikuti 200 peserta berasal dari kepengurusan NU Care-LAZISNU di tingkat pusat, 9 pengurus wilayah, dan 67 pengurus cabang/kota. Jumlah peserta tersebut tergolong kecil dibandingkan dengan keseluruhan pengurus wilayah dan cabang yang sebenarnya ada.

“Kami mengundang kepengurusan pilihan yang memang sudah aktif, walaupun banyak yang belum maksimal. Tujuannya untuk memberikan bekal dan wawasan baru untuk peningkatan kelembagaan NU Care-LAZISNU,” kata Mas’ud dalam sambutannya.

Pihaknya juga menyebutkan, NU Care-LAZISNU selama tahun 2016 berkonsentrasi pada penataan di dalam. Namun, juga dibarengi dengan perolehan dana ZIS yang mengalami peningkatan kurang lebih 1000 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tahun sebelumnya perolehan ada di angka 5-7 miliar. Tahun 2016 sudah mencapai 59 miliar,” urai Mas’ud.

Dari angka 59 miliar tersebut, sekira 40 miliar terhimpun di Jakarta. Menurut Mas’ud, bila semua daerah digerakkan secara maksimal, pemasukan ZIS di Jakarta hanya berkisar 20 persen.

“NU Care-LAZISNU saat ini menerapkan manajemen MANTAP, yaitu Modern, Akuntabel, Transparan, Amanah, dan Profesional. Semoga ini bisa menjadi tonggak semangat NU Care-LAZISNU ke depan,” harap Ma’ud.

Sementara itu, Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda mengatakan, NU Care-LAZISNU dalam penyaluran dana ZIS bersinergi dengan lembaga dan banom NU lainnya. Ia menyebut antara lain dalam penanganan pasca gempa Pidie Jaya, Aceh, NU Care bekerja sama dengan LPBINU dan LKNU.

Syamsul mengatakan seminar dan workshop kali ini diharapkan menjadi modal untuk terus mengembangkan NU Care LAZISNU. Sukabumi menjadi percontohan karena dinilai penerapan ZIS-nya sangat NU. Diharapkan apa yang sudah diterapkan di Sukabumi,dapat diterapkan di seluruh Indonesia.

“Kita harus mengembangkan potensi di semua daerah untuk kepentingan daerah bersangkutan. Bila setiap kecamatan ada pemasukan dana ZIS senilai 100 juta per bulan, maka seluruh Indonesia akan senilai 1 triliun per bulan,” kata Syamsul.

Peningkatan NU Care-LAZISNU menjadi sangat penting bila berkaca pada lembaga zakat lainnya yang nilai pemasukannya lebih tinggi dan kiprahnya lebih dikenal.

“Kami harus sampaikan ke semua peserta bahwa persaingan semakin berat. Kita seperti baru bangun. Maka kekurangan itu harus kita perbaiki. Ada moto yang harus dipegang bahwa NU Care harus menjadi lembaga keuangan yang akuntabel, tidak bisa sewenang-wenang dan asal asalan,” kata Syamsul.

Ia menyebutkan saat ini NU Care telah mendapatkan sertifikat ISO 9001: 2015. NU Care harus taat pada audit oleh lembaga ISO tersebut. Pihaknya meminta kesiapan semua daerah mendukung sistem tersebut. 
(Kendi Setiawan/Mahbib)
@nuonline

Mukhlas, salah satu utusan Lazisnu Kota Pasuruan

Sekedar diketahui, PC Lazisnu Kota Pasuruan juga mengirimkan dua orang utusan untuk hadir dan mengikuti agenda rakornas. 

Post a Comment

0 Comments